SURABAYA, Integritas-news.my.id — Kasih tidak berhenti pada rangkaian kata-kata indah. Kasih yang sejati justru terlihat ketika seseorang berani mewujudkannya melalui tindakan nyata, bahkan lewat hal-hal kecil yang sering dianggap tidak berarti.
Pesan itulah yang menjadi inti renungan bertajuk “Cucian Kasih”, yang mengangkat bacaan dari 1 Yohanes 3:10-24, dengan nas utama 1 Yohanes 3:18: “Marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.”
Gultomedward mengungkapkan, kehidupan sehari-hari sering menghadirkan kesempatan sederhana untuk menunjukkan kasih kepada orang-orang terdekat. Salah satunya melalui pekerjaan rumah tangga yang terlihat biasa, tetapi sesungguhnya dapat menjadi bentuk pelayanan dan perhatian yang nyata.
“Ketika saya mencuci pakaian istri, ia menyarankan agar pakaian dipisahkan. Ada pakaian yang luntur dan dapat memberikan dampak kepada pakaian lainnya. Karena itu, pakaian tertentu harus dicuci secara terpisah agar tidak merusak yang lain,” ujar Gultomedward dalam refleksinya.
Menurutnya, proses mencuci pakaian tersebut menjadi sebuah pelajaran penting. Tindakan kecil untuk memperhatikan pakaian milik istri dan anak-anak ternyata memiliki makna yang jauh lebih besar daripada yang terlihat.
“Pakaian favorit kami ditempatkan dalam kelompok cucian yang istimewa. Bagi saya mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi istri dan anak-anak, perhatian itu memiliki arti. Dari sana saya memahami bahwa tindakan kasih yang kecil dapat menjadi ungkapan kasih Allah yang kuat di tengah dunia yang penuh dengan kesukaran,” ungkapnya.
Ia menegaskan, kasih Kristen tidak cukup hanya disampaikan melalui ucapan. Kasih harus dibuktikan melalui perbuatan dan kebenaran. Prinsip tersebut, menurutnya, menjadi pesan kuat yang harus terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.
Gultomedward kemudian mengibaratkan kehidupan manusia seperti pakaian yang membutuhkan proses pencucian. Berbagai noda kehidupan seperti kesombongan, iri hati, fitnah dan sikap mementingkan diri sendiri harus dibersihkan agar manusia kembali hidup dalam kasih dan kebenaran.
“Pakaian yang kotor perlu dicuci bersih. Demikian juga kehidupan manusia. Kesombongan, iri hati, fitnah dan mementingkan diri sendiri adalah noda yang harus dibersihkan. Dalam iman Kristen, darah Yesus Kristus menjadi gambaran penebusan dan penyucian dari dosa,” jelasnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi ajakan agar umat tidak hanya pandai berbicara tentang kasih, tetapi berani hadir melalui tindakan nyata. Membantu orang yang membutuhkan, memberikan perhatian kepada keluarga, menguatkan mereka yang sedang menghadapi kesulitan, serta menjaga sesama dari tindakan yang dapat melukai merupakan bagian dari wujud kasih yang dapat dilakukan setiap hari.
“Bagikan berita kasih kepada orang lain bukan hanya dengan kata-kata, tetapi sertai dengan perbuatan dan kebenaran. Tindakan kasih yang kecil dapat membuat perbedaan besar,” tuturnya.
Ia berharap renungan tersebut dapat menjadi pengingat bahwa kasih tidak selalu harus diwujudkan melalui sesuatu yang besar. Perhatian sederhana, kepedulian kepada keluarga, serta kesediaan menolong sesama dapat menjadi kesaksian iman yang nyata.
“Kiranya Tuhan Yesus memberikan kita hati yang mengasihi, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi disertai tindakan kasih melalui perbuatan dalam kebenaran. Dalam nama Yesus, hamba mohon. Amin,” pungkasnya.
Gultomedward menutup pesannya dengan mengajak setiap orang yang membaca renungan tersebut untuk menjadikan kasih sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, terutama kepada mereka yang membutuhkan uluran tangan.
“Selamat beraktivitas. Tuhan memberkati setiap orang yang membaca firman Tuhan ini dan mau berbagi kasih kepada semua orang yang membutuhkan uluran tangan,” tutupnya.
Pewarta: Daniel Ratu

