MAKASSAR — Integritas-news.my.id — Kebakaran besar yang melanda Asrama TNI AD Mattoanging, Kota Makassar, pada 1 September 2026, meninggalkan duka mendalam bagi puluhan warga. Kobaran api yang dengan cepat membesar menghanguskan 19 rumah warga, menyisakan puing-puing bangunan serta kerugian materi yang tidak sedikit.
Namun, di tengah kepanikan dan perjuangan petugas menjinakkan kobaran api, muncul sebuah aksi heroik dari seorang anak berusia 13 tahun yang justru menunjukkan keberanian dan kepedulian luar biasa.
Anak tersebut diketahui bernama Rahmat. Saat api masih berkobar dan personel TNI, Polri serta petugas pemadam kebakaran berjibaku mengendalikan situasi, Rahmat tanpa ragu turun ke dalam got yang berair dan berbau untuk mengambil air menggunakan ember.
Air yang diambil Rahmat kemudian digunakan secara bergantian oleh personel TNI dan Polri untuk menyiram titik-titik api yang masih menyala. Sementara itu, Rahmat tetap berada di dalam got dan menunggu para personel yang membutuhkan air untuk kembali mengambilnya.
Aksi spontan tersebut menunjukkan keberanian seorang anak yang tidak memikirkan rasa takut maupun kelelahan. Di tengah situasi genting, Rahmat justru mengambil peran sebagai penyuplai air bagi para petugas yang sedang berjuang memadamkan api dan menyelamatkan sisa bangunan serta aset warga.
Keberanian Rahmat pun mendapat perhatian dan apresiasi dari jajaran Pomdam Hasanuddin Makassar.
Pada Jumat siang, 4 September 2026, Rahmat diundang untuk berkunjung sekaligus makan bersama di kantor Pomdam Hasanuddin yang beralamat di Jl. Monginsidi No.19A, Maricaya Baru, Kecamatan Makassar, Kota Makassar.
Dalam kesempatan tersebut, Rahmat menerima apresiasi langsung dari Kolonel CPM M. Rokib Jabar, S.H Danpomdam Hasanuddin, sebagai bentuk penghargaan atas keberanian dan kepeduliannya ketika membantu petugas dalam penanganan kebakaran.
“Aksi Rahmat menjadi bukti bahwa kepedulian dan keberanian tidak mengenal usia. Di tengah musibah, aksi anak 13 tahun ini mengingatkan kita bahwa gotong royong dan kepedulian sesama adalah kekuatan yang tak ternilai, layak kita apresiasi,” beber Kolonel CPM M. Rokib Jabar, S.H Danpomdam Hasanuddin.
Kisah Rahmat menjadi gambaran bahwa keberanian tidak selalu lahir dari mereka yang memiliki kekuatan besar. Dalam kondisi yang serba terbatas, seorang anak justru mampu menunjukkan kepedulian nyata ketika masyarakat dan petugas sedang menghadapi bencana.
Di balik keberanian tersebut, tersimpan persoalan lain yang tidak boleh luput dari perhatian. Diketahui, Rahmat kini tinggal bersama keluarganya di Jl. Kakatua, setelah kedua orang tuanya berpisah.
Yang lebih memprihatinkan, Rahmat saat ini putus sekolah.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius. Apresiasi terhadap keberanian Rahmat tentu penting, tetapi masa depannya juga harus menjadi kepedulian bersama. Anak seusianya semestinya berada di bangku sekolah, mendapatkan pendidikan yang layak dan memiliki kesempatan untuk mengejar cita-cita.
Redaksi Integritas-news.my.id berharap Pemerintah Kota Makassar dapat memberikan perhatian dan membantu Rahmat agar kembali memperoleh hak pendidikannya. Keberanian yang ditunjukkannya saat musibah merupakan cermin kepedulian sosial yang patut dihargai, namun masa depan pendidikan seorang anak juga tidak boleh dibiarkan terputus.
Rahmat telah menunjukkan kepedulian kepada orang lain ketika musibah datang. Kini, giliran pemerintah dan masyarakat menunjukkan kepedulian kepada Rahmat.
Pewarta: Ifa



