SURABAYA, Integritas-news.my.id — Sebuah pesan moral melalui video berdurasi sekitar dua menit mengajak masyarakat untuk kembali melihat satu nilai kehidupan yang mulai sering terabaikan: menghormati dan menghargai orang tua, baik orang tua kandung maupun orang tua di lingkungan sekitar, sebagaimana kita menghormati orang tua sendiri.

Pesan tersebut disampaikan sebagai pengingat bahwa kehidupan sosial tidak hanya membutuhkan kecerdasan dan keberhasilan, tetapi juga membutuhkan adab, kepedulian serta rasa hormat kepada orang yang lebih tua.


Video yang menjadi bahan perenungan masyarakat itu mengangkat pesan sederhana namun kuat: jangan menjadi anak durhaka kepada orang tua. Anak diajak untuk berbuat baik kepada ibu dan ayah, menghargai pengorbanan mereka, serta menjaga perkataan dan perilaku ketika berhadapan dengan orang tua.

Pesan itu relevan untuk direnungkan pada Minggu, 6 September 2026, ketika kehidupan masyarakat terus bergerak di tengah perubahan zaman dan perkembangan teknologi yang begitu cepat.

Menurut Pewarta Ifa, menghormati orang tua bukan hanya persoalan hubungan dalam keluarga, melainkan juga bagian dari ukuran moral seseorang ketika hidup berdampingan dengan masyarakat.

“Jangan ukur bakti kepada orang tua hanya dari seberapa banyak yang kita berikan secara materi. Kadang satu perkataan yang lembut, satu perhatian dan satu sikap hormat jauh lebih berarti bagi mereka. Jangan sampai ketika orang tua sudah tidak ada, baru kita sadar bahwa waktu untuk meminta maaf dan membahagiakan mereka sudah tidak dapat diulang,” ujar Pewarta Ifa.

Ia menegaskan, masyarakat juga memiliki tanggung jawab moral untuk memperlakukan orang tua milik orang lain dengan baik. Sikap menghormati, membantu ketika membutuhkan pertolongan, serta menjaga ucapan merupakan bentuk nyata bahwa nilai kemanusiaan masih hidup di tengah masyarakat.

“Kalau kita ingin orang tua kita dihormati oleh orang lain, maka kita harus lebih dahulu memberikan penghormatan kepada orang tua orang lain. Kebaikan tidak boleh berhenti di dalam rumah sendiri. Ia harus dibawa ke lingkungan sosial dan menjadi karakter dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

Menurutnya, menjadi anak yang baik bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan orang tua, tetapi juga tentang menjaga hati mereka. Perkataan kasar, sikap meremehkan, membentak atau mengabaikan orang tua dapat meninggalkan luka yang tidak selalu terlihat.

Karena itu, pesan untuk berbuat baik kepada ibu dan ayah harus terus disampaikan. Ibu merupakan sosok yang memiliki pengorbanan besar dalam kehidupan seorang anak, sementara ayah juga menjadi bagian penting dalam perjuangan keluarga. Keduanya layak mendapatkan penghormatan, kasih sayang dan perhatian.

Pewarta Ifa kembali mengingatkan bahwa waktu tidak pernah berjalan mundur. Anak yang hari ini masih memiliki kesempatan untuk berbicara dengan orang tuanya seharusnya tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

“Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai. Jangan menunggu pemakaman untuk menangisi. Selagi ibu dan ayah masih ada, datangi, sapa, hormati dan bahagiakan mereka sesuai kemampuan kita. Sebab penyesalan terbesar sering datang ketika kesempatan untuk memperbaiki semuanya telah tertutup,” ungkapnya.

Pesan tersebut juga menjadi refleksi bagi generasi muda agar kemajuan teknologi tidak membuat hubungan antarmanusia semakin jauh. Di tengah derasnya komunikasi melalui layar telepon, perhatian kepada orang tua tetap membutuhkan kehadiran nyata, kepedulian dan kasih sayang.

Menghormati orang tua pada akhirnya bukan sekadar kewajiban moral, melainkan cermin karakter manusia. Dari cara seseorang memperlakukan orang tua, masyarakat dapat melihat sejauh mana nilai kesopanan, kemanusiaan dan kasih sayang masih tertanam dalam dirinya.

“Hormatilah orang tua orang lain seperti kita ingin orang tua kita dihormati. Berbuat baiklah kepada ibu dan ayah selagi kesempatan masih terbuka. Jangan menjadi anak durhaka dan jangan biarkan kesibukan dunia membuat kita lupa kepada orang yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup kita,” pungkas Pewarta Ifa.