SURABAYA — Integritas-news.my.id — Di balik ketegasan seragam cokelat dan kewibawaan lencana Kepolisian, ada pengabdian yang berjalan dalam sunyi. Tidak banyak diketahui publik, seorang anggota Polri memilih mengisi waktu di luar tugas kedinasan dengan membantu warga yang datang membawa keluhan sakit—tanpa mematok tarif dan tanpa meminta imbalan.
Sosok itu adalah Aiptu Affan Hermansyah, anggota Panit Binmas Polsek Pabean Cantikan, wilayah hukum Polres Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.
Di kediamannya di Jalan Tambak Asri Gang 26 Nomor 22, Surabaya, ruang tamu dan teras rumah sederhana itu menjadi tempat warga mencari pertolongan. Dari keluhan tubuh hingga persoalan saraf kejepit dan penyakit yang telah lama diderita, Affan melayani warga dengan ketulusan.
Tidak ada tarif pendaftaran. Tidak ada daftar harga. Tidak pula ada tuntutan pembayaran setelah warga mendapatkan bantuan.
Bagi Affan, membantu sesama merupakan bagian dari pengabdian yang tidak berhenti ketika jam dinas berakhir.
Ketika Tugas Negara Bertemu Panggilan Nurani
Minggu, 6 September 2026, kisah pengabdian itu kembali menjadi perhatian. Selepas menjalankan tugas, Affan tetap membuka pintu rumahnya bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan.
Baginya, seragam Polri bukan hanya simbol ketegasan dalam menjalankan hukum. Seragam itu juga membawa tanggung jawab moral untuk hadir ketika masyarakat membutuhkan.
Ketika sebagian orang menggunakan waktu luang untuk beristirahat, Affan justru memilih menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Sebuah ketukan pintu pada penghujung senja menjadi gambaran sederhana dari prinsip yang ia pegang.
Seorang nenek datang mengantar suaminya yang mengalami gangguan saraf kejepit menahun. Sang suami berjalan tertatih. Wajah pasangan lansia itu menyimpan kecemasan setelah berbagai upaya pengobatan belum memberikan hasil yang mereka harapkan, sementara keterbatasan biaya menjadi persoalan yang tidak mudah mereka hadapi.
Affan menerima mereka dengan ramah.
Tidak ada pertanyaan mengenai kemampuan membayar. Tidak ada pembicaraan tentang biaya.
Yang ada hanyalah kemauan membantu.
“Bayarlah dengan Doa, Nek”
Di ruang tamu rumahnya, Affan kemudian membantu menangani keluhan yang dirasakan sang kakek. Dengan hati-hati ia melakukan pemijatan pada bagian tubuh yang dikeluhkan, sembari melantunkan zikir.
Ia menyadari bahwa dirinya hanyalah perantara. Kesembuhan, menurut keyakinannya, berada di tangan Allah SWT.
Usai mendapatkan bantuan, sang nenek sempat bertanya dengan suara bergetar.
“Pak Polisi, berapa yang harus kami bayar?”
Pertanyaan sederhana itu justru memperlihatkan ketulusan Affan.
Ia tidak meminta uang. Tidak pula mengarahkan keluarga tersebut untuk memberikan imbalan.
“Bayarlah dengan doa, Nek. Doakan agar saya selalu diberi kesehatan untuk terus membantu sesama. Upah saya sudah disiapkan oleh Gusti Allah di akhirat nanti.”
Kalimat itu menjadi penutup yang jauh lebih mahal daripada nilai rupiah.
Air mata sang nenek pun jatuh. Di tengah kehidupan yang sering menempatkan kemampuan ekonomi sebagai ukuran untuk mendapatkan pelayanan, ia menemukan sebuah pintu pertolongan yang dibuka tanpa meminta bayaran.
Menabung Pahala Lewat Pengabdian
Apa yang dilakukan Aiptu Affan Hermansyah menjadi potret lain dari wajah humanis seorang anggota Kepolisian.
Ia memilih jalan pengabdian yang tidak selalu mendapatkan sorotan kamera. Tidak ada panggung besar. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada tuntutan untuk dipuji.
Hanya ada warga yang datang membawa sakit dan seorang polisi yang berusaha memberikan pertolongan sesuai kemampuan yang dimilikinya.
Setiap tenaga yang dikeluarkan, setiap keringat yang jatuh, dan setiap warga yang pulang dengan harapan baru menjadi bagian dari perjalanan pengabdian tersebut.
Bagi Affan, nilai sebuah kebaikan bukan ditentukan oleh seberapa besar manusia memberikan penghargaan, melainkan seberapa tulus seseorang memberi manfaat kepada sesamanya.
Kisah di Jalan Tambak Asri itu sekaligus mengingatkan bahwa pengabdian kepada masyarakat memiliki banyak wajah. Ada yang hadir melalui penegakan hukum, ada yang hadir melalui pelayanan, dan ada pula yang tumbuh dari kepedulian seorang manusia kepada manusia lainnya.
Aiptu Affan memilih jalannya sendiri: menyembuhkan raga dengan keikhlasan, menyentuh hati dengan kemanusiaan, dan menabung pahala tanpa menunggu pujian.
Di balik seragam yang tegas, ternyata ada hati yang memilih bekerja dalam diam.
Dan dari sebuah rumah sederhana di Jalan Tambak Asri, pengabdian itu menemukan maknanya: ketika membantu sesama dilakukan dengan tulus, kebaikan tidak membutuhkan panggung untuk menjadi cahaya.
Pewarta: Ifa

