SURABAYA — Minggu, 6 September 2026 — Integritas-news.my.id — Rezeki adalah salah satu perkara yang setiap hari dikejar manusia. Ada yang bekerja keras sejak pagi, menghabiskan waktu hingga malam, mengandalkan kepandaian, mengejar jabatan, bahkan tidak sedikit yang tergoda menempuh jalan yang salah demi mendapatkan lebih banyak harta.
Namun, sebuah renungan mengingatkan bahwa rezeki tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa keras manusia bekerja, seberapa lama waktu yang dihabiskan untuk mencari penghasilan, maupun seberapa tinggi kepandaian seseorang.
Jika rezeki hanya ditentukan oleh kerja keras, para pekerja bangunan yang menguras tenaga setiap hari tentu menjadi orang yang paling banyak mendapatkannya.
“Jika rezeki itu ditentukan dari waktu kerja, maka warung kopi 24 jam-lah yang akan lebih banyak mendapatkannya.”
Jika rezeki ditentukan oleh kepintaran, mereka yang memiliki sederet gelar akademik tentu menjadi kelompok yang paling kaya.
Dan jika rezeki ditentukan oleh kecepatan, para pembalaplah yang seharusnya berada di puncak kekayaan.
Kenyataannya tidak demikian.
Pewarta Ifa menilai, manusia memang wajib bekerja dan berikhtiar. Tetapi hasil akhir bukan sepenuhnya berada di tangan manusia.
“Manusia wajib berusaha. Tetapi jangan sampai usaha mencari rezeki membuat kita lupa bahwa ada batas halal dan haram yang harus dijaga. Banyak atau sedikit bukan satu-satunya ukuran. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana rezeki itu diperoleh dan apakah membawa keberkahan,” ujar Pewarta Ifa, Minggu (6/9/2026).
Renungan tersebut juga menjadi pengingat bahwa cara memperoleh harta tidak boleh diabaikan. Sebab, harta yang diperoleh dengan jalan haram mungkin terlihat memberikan keuntungan dalam waktu singkat, tetapi konsekuensi moral dan pertanggungjawabannya jauh lebih panjang.
Dalam ajaran Islam, manusia diperintahkan untuk menempuh jalan yang halal sekaligus bertawakal kepada Allah SWT setelah melakukan ikhtiar.
Peringatan tentang bahaya harta haram juga diriwayatkan dari Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu:
مَنْ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنَ السُّحْتِ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ
“Siapa yang dagingnya tumbuh dari pekerjaan yang tidak halal, maka neraka lebih pantas untuknya.”
Hadis tersebut menjadi tamparan moral bagi siapa pun yang menjadikan harta sebagai tujuan dengan mengorbankan prinsip.
Pewarta Ifa menegaskan, kehidupan dunia memiliki batas. Manusia tidak selamanya berada dalam kondisi sehat, kuat, kaya maupun berkuasa.
“Jangan sampai demi mendapatkan kenikmatan dunia yang hanya sementara, seseorang rela mengorbankan keselamatan akhirat. Dunia memiliki batas waktu, sementara setiap amal dan perbuatan akan dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Karena itu, bekerja keras tetap penting. Berusaha tetap wajib. Berdoa harus dilakukan. Namun semuanya harus ditempuh dengan cara yang benar.
Rezeki yang halal mungkin tidak selalu terlihat besar di mata manusia. Tetapi keberkahan tidak selalu bisa dihitung dengan angka.
Ada rezeki yang sedikit tetapi menenangkan.
Ada penghasilan sederhana tetapi membawa keberkahan bagi keluarga.
Sebaliknya, ada kekayaan yang berlimpah tetapi justru menjadi sumber kegelisahan apabila diperoleh dengan cara yang salah.
Pada akhirnya, manusia hanya mampu berikhtiar. Allah SWT yang menentukan hasilnya.
Maka jangan takut menjadi sederhana karena memilih jalan halal. Jangan merasa kalah hanya karena tidak memiliki kekayaan sebanyak orang lain. Dan jangan pernah menukar ketenangan hati serta keselamatan akhirat dengan harta yang diperoleh melalui jalan yang dilarang.
Carilah rezeki dengan tangan yang halal, jalani kehidupan dengan kejujuran, dan serahkan hasilnya kepada Allah SWT dengan penuh tawakal.
Semoga Allah SWT menjaga kita dari rezeki yang haram, menjauhkan kita dari keserakahan, serta mencukupkan kita dengan rezeki yang halal, baik dan penuh keberkahan.
Pewarta: Ifa
Integritas-news.my.id

