SURABAYA | Integritas-news.my.id — Pewarta Ifa
Kesendirian tidak selalu berarti kehilangan. Ada kalanya manusia dijauhkan dari keramaian, dipisahkan dari tempat mengadu, bahkan dibuat merasa tidak memiliki siapa-siapa. Namun, di balik keadaan itu bisa tersimpan sebuah pelajaran besar: agar hati berhenti mencari sandaran kepada manusia dan kembali sepenuhnya kepada Allah SWT.
Pesan tersebut menjadi renungan yang disampaikan Kang Yudi, bahwa ada masa ketika Allah menghadirkan kesepian bukan untuk menghukum manusia, melainkan untuk membuka ruang bagi hati agar lebih dekat kepada-Nya.
“Terkadang Allah membuat kita kesepian agar kita tidak bercerita kepada siapapun kecuali hanya dengan-Nya,” ujar Kang Yudi.
Menurutnya, manusia sering kali terlalu sibuk mencari tempat untuk mencurahkan kesedihan, kegelisahan, kekecewaan, hingga persoalan hidup kepada sesama manusia. Padahal, tidak semua telinga mampu memahami isi hati dan tidak semua orang mampu menjaga cerita yang telah dipercayakan.
Dalam kondisi seperti itulah, kesendirian dapat menjadi ruang untuk melakukan perjalanan batin. Ketika tidak ada lagi tempat untuk mengadu, seorang hamba justru memiliki kesempatan untuk berbicara lebih jujur kepada Sang Pencipta.
Tangisan yang jatuh dalam kesunyian pun bukan selalu tanda kelemahan. Bisa jadi, air mata itu menjadi saksi bahwa hati seseorang sedang mengetuk pintu langit, memohon pertolongan, ampunan, kekuatan, dan ketenangan.
Dalam ajaran Islam, terdapat hadis yang menyebutkan tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya. Salah satunya adalah orang yang mengingat Allah dalam kesendirian hingga kedua matanya meneteskan air mata.
Pesan itu memperlihatkan bahwa nilai sebuah ibadah tidak selalu berada di tengah keramaian. Ada amal yang justru memiliki kedalaman ketika tidak diketahui siapa pun. Ketika seseorang menangis dalam kesunyian karena mengingat Allah, tidak ada tepuk tangan, tidak ada pujian, dan tidak ada manusia yang menyaksikan.
Yang mengetahui hanyalah Allah.
Kang Yudi menilai, manusia terkadang baru memahami arti sebuah kedekatan dengan Allah ketika seluruh sandaran dunia terasa menjauh. Saat orang yang diharapkan tidak datang, ketika cerita tidak lagi mendapatkan tempat, dan ketika masalah terasa terlalu berat untuk dibagikan kepada siapa pun, pada saat itulah seorang hamba dapat menemukan bahwa pintu Allah tidak pernah tertutup.
“Kesepian jangan selalu dipandang sebagai hukuman. Bisa jadi, itu adalah cara Allah memanggil kita agar berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia dan mendengarkan suara hati sendiri,” ungkap Kang Yudi.
Ia menegaskan, kesendirian seharusnya tidak membuat manusia kehilangan harapan. Justru dalam kesunyian, seseorang dapat memperbanyak doa, memperbaiki hubungan dengan Allah, mengevaluasi perjalanan hidup, serta menemukan kembali kekuatan yang selama ini dicari dari manusia.
Sebab manusia memiliki batas. Mereka bisa lelah, pergi, berubah, lupa, bahkan tidak memahami apa yang sedang kita rasakan. Namun Allah SWT tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Karena itu, ketika kehidupan terasa sunyi, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa diri sedang ditinggalkan. Bisa jadi, ada panggilan yang lebih tinggi untuk kembali mendekat kepada-Nya.
Kesunyian dapat menjadi sekolah bagi hati. Air mata dapat menjadi bahasa doa. Dan kesendirian dapat menjadi jalan untuk menemukan kembali Allah sebagai tempat bersandar yang paling hakiki.
“Kalau hari ini kita merasa sendirian, jangan takut. Gunakan kesendirian itu untuk berbicara kepada Allah. Ceritakan semua yang tidak mampu kita ceritakan kepada manusia. Sebab terkadang, di dalam sunyi itulah hati justru menemukan jawaban,” pungkas Kang Yudi.
Pewarta: Ifa
Integritas-news.my.id — Tepat, Lugas, Konsisten

