Mataram | Integritas-news.my.id — Kanjeng Sinuhun Sultan Agung Hanyakrakusuma kembali memberikan wejangan tentang mencintai kehidupan. Kali ini, perhatian sang raja diarahkan pada dunia pertanian, tumbuh-tumbuhan, kelestarian alam, hingga persoalan ketersediaan air tanah yang menjadi penopang utama kehidupan.

Dalam pembekalan pertanian di Padepokan Sendang Wangi, Sultan Agung menjelaskan bahwa tumbuh-tumbuhan juga membutuhkan makanan dan minuman untuk dapat hidup serta berkembang dengan baik.

Tanaman membutuhkan nutrisi dan air untuk menguatkan akar, menumbuhkan batang dan daun, berbunga hingga akhirnya menghasilkan buah.

“Setiap tumbuh-tumbuhan memiliki kebutuhan untuk tumbuh dan berkembang. Karena itu, manusia yang mengolahnya harus memahami apa yang dibutuhkan tanaman agar dapat menghasilkan buah dan sayuran yang sehat,” ujar Kanjeng Sinuhun Sultan Agung Hanyakrakusuma.

Para petani yang mengikuti pembekalan tampak menyimak dengan penuh perhatian. Apa yang disampaikan sang raja sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Namun, banyak hal yang selama ini berjalan berdasarkan kebiasaan tanpa benar-benar dipahami melalui pengetahuan yang utuh.

Sultan Agung menegaskan bahwa pertanian tidak boleh hanya dipandang sebagai kegiatan menanam kemudian menunggu hasil panen. Di dalamnya terdapat ilmu, ketekunan, kepedulian terhadap tanah, air, tumbuh-tumbuhan serta lingkungan tempat manusia menggantungkan kehidupannya.

“Kalau tanaman dirawat dengan baik, tanah dijaga dan kebutuhan airnya tersedia, hasilnya tentu akan lebih baik. Petani harus memahami kehidupan tanaman, bukan hanya menanam lalu memetik hasilnya,” ungkapnya.

Wejangan tersebut juga mendapat perhatian serius dari para punggawa Mataram yang hadir dalam pembukaan pembekalan pertanian di Sendang Wangi.

Mereka menyimak setiap penjelasan yang disampaikan Sultan Agung. Banyak pengetahuan baru yang mereka peroleh, terutama mengenai hubungan antara pertanian, tumbuh-tumbuhan, tanah dan keberlangsungan kehidupan.

Di antara para punggawa tersebut, Ki Tumenggung Ratmaka memang dikenal memiliki kecintaan terhadap tanaman dan alam. Pekarangan kediamannya tertata rapi, asri, sejuk dan dipenuhi berbagai jenis tumbuh-tumbuhan.

Bahkan, Ki Tumenggung Ratmaka juga memiliki kebun buah sendiri.

Meski demikian, Ki Tumenggung Ratmaka tetap mengikuti pembekalan dengan penuh kesungguhan. Ia menyadari bahwa merawat tanaman berdasarkan rasa cinta terhadap alam berbeda dengan merawatnya berdasarkan ilmu pengetahuan.

Selama ini, dirinya bersama para abdi katemenggungan lebih banyak merawat tumbuh-tumbuhan karena kecintaan terhadap alam.

“Merawat tanaman dengan rasa cinta memang baik, tetapi pengetahuan tetap diperlukan agar apa yang kita lakukan memberikan hasil yang lebih baik,” tuturnya.

Para punggawa Mataram pun semakin mengakui keluasan pengetahuan Kanjeng Sinuhun Sultan Agung Hanyakrakusuma. Cara sang raja menyampaikan wejangan juga dinilai lugas dan tegas, tetapi tidak kaku.

Setiap persoalan dijelaskan secara sederhana sehingga mudah dipahami para petani maupun punggawa yang hadir.

Satu Pohon Ditebang, Empat Bibit Harus Ditanam

Sultan Agung kemudian mengarahkan pembahasannya pada kelestarian alam di kawasan Sendang Wangi.

Ia memberikan prinsip yang tegas mengenai keberadaan pohon.

“Kalau seseorang menebang satu pohon, maka sebagai gantinya harus menanam empat bibit pohon. Bibit itu harus dirawat sampai tumbuh dan dapat memberikan manfaat bagi kehidupan,” ujar Sultan Agung.

Bibit tersebut dapat ditanam di berbagai tempat kosong yang masih tersedia di kawasan Sendang Wangi.

Dengan cara tersebut, kawasan Sendang Wangi diharapkan semakin hijau, teduh dan memiliki pepohonan yang cukup untuk menjaga keseimbangan lingkungan.

Sultan Agung juga mengingatkan bahwa keberadaan pohon mempunyai peran besar dalam menjaga tanah, terutama di kawasan perbukitan.

“Pohon-pohon kayu harus dipertahankan. Kalau pepohonan tetap ada, tanah akan lebih kuat dan risiko terjadinya longsor dapat ditekan,” ungkapnya.

Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa menjaga alam tidak berhenti pada menanam pohon. Pohon yang sudah ditanam harus dirawat sampai tumbuh besar dan mampu menjalankan fungsinya bagi lingkungan.

Air Tanah Menjadi Kunci Kehidupan

Wejangan Sultan Agung kemudian memasuki persoalan yang lebih mendasar, yakni ketersediaan air tanah.

Menurutnya, air merupakan kebutuhan utama bagi tumbuh-tumbuhan. Tanaman tidak dapat berpindah tempat untuk mencari air seperti manusia dan hewan.

Karena itu, manusia yang memiliki akal dan pengetahuan mempunyai kewajiban untuk menjaga serta menyediakan sumber air bagi keberlangsungan tumbuh-tumbuhan.

“Yang paling dibutuhkan tumbuh-tumbuhan adalah air. Tanaman tidak bisa pergi mencari air sendiri. Maka manusia yang harus mengusahakan agar air tetap tersedia,” tutur Sultan Agung.

Para petani dan punggawa yang hadir kembali menyimak dengan serius. Mereka menunggu penjelasan mengenai bagaimana cara menjaga ketersediaan air, terutama ketika memasuki musim kemarau.

Sultan Agung kemudian menjelaskan bahwa solusinya sebenarnya dapat dilakukan dengan cara sederhana.

Curah hujan yang tinggi pada musim penghujan, menurutnya, jangan dibiarkan seluruhnya mengalir menuju lembah dan kemudian hilang.

Air hujan harus ditabung di dalam tanah untuk menjadi cadangan ketika musim kemarau datang.

“Ketika musim penghujan, air hujan jangan dibiarkan semuanya mengalir dan terbuang ke lembah. Air itu harus ditabung untuk menghadapi musim kemarau,” ujarnya.

Salah satu caranya adalah membuat sumur-sumur resapan di berbagai lokasi, terutama di kawasan perbukitan.

“Buatlah sumur-sumur resapan di banyak tempat. Air hujan akan masuk ke dalam tanah dan tersimpan di sana. Dengan begitu, ketika musim kemarau tiba, tanah masih memiliki persediaan air,” ungkapnya.

Konsep tersebut menunjukkan pentingnya menjaga hubungan antara pohon, tanah dan air. Pepohonan menjaga tanah, tanah menyimpan air, sementara air menjadi sumber kehidupan bagi tumbuh-tumbuhan.

Jika ketiganya dijaga secara bersama-sama, maka kehidupan pertanian akan memiliki fondasi yang kuat.

Sendang Wangi pun diharapkan bukan hanya menjadi tempat pembekalan bagi para petani, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kesadaran tentang pentingnya ilmu pertanian dan kecintaan terhadap alam.

Sultan Agung menegaskan bahwa keberhasilan pertanian tidak hanya ditentukan oleh banyaknya tanaman yang ditanam, tetapi juga oleh kemampuan manusia menjaga tanah, air dan lingkungan yang menjadi tempat tanaman tumbuh.

“Jaga tanaman, jaga tanah, dan jaga air. Kalau alam dijaga, alam juga akan memberikan kehidupan kepada manusia,” pungkas Kanjeng Sinuhun Sultan Agung Hanyakrakusuma.

Pewarta: Ifa

Integritas-news.my.id