LUWU TIMUR | Integritas-news.my.id — Bank Sampah Unit (BSU) Bhakti Satria Bhayangkari Cabang Luwu Timur mulai mengaktifkan kegiatan penjualan sampah anorganik sebagai langkah nyata dalam mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat sekaligus memperkuat penerapan ekonomi sirkular di lingkungan sekitar.
Aktivasi tersebut berlangsung di Kabupaten Luwu Timur pada 13 September 2026. Kegiatan ditandai dengan proses penimbangan dan penjualan sampah anorganik, khususnya kardus, yang sebelumnya telah dikumpulkan, dipilah, dan ditata oleh pengurus bank sampah.
Kegiatan ini menjadi langkah lanjutan setelah BSU Bhakti Satria Bhayangkari Cabang Luwu Timur diresmikan pada 24 April 2026. Pengurus bersama masyarakat mulai menggerakkan fungsi bank sampah secara nyata dengan mengelola sampah dari sumbernya hingga memiliki nilai ekonomi.
Sampah kardus yang sebelumnya dipandang sebagai barang tidak bernilai dikumpulkan dan dipilah untuk kemudian ditimbang sebelum dijual kepada pihak pengepul. Hasil penjualan tersebut menjadi nilai ekonomi yang dapat memberikan manfaat bagi pengelolaan serta mendukung keberlanjutan operasional bank sampah.
Aktivasi ini sekaligus menunjukkan bahwa bank sampah memiliki peran lebih luas. Tidak hanya membantu mengurangi timbulan sampah, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan sampah yang masih memiliki nilai jual sehingga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Ketua Bhayangkari Cabang Luwu Timur, Ny. Dinda Ario Putranto, mengajak seluruh pengurus, anggota Bhayangkari, keluarga, serta masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan bank sampah.
“Kami ingin mengajak seluruh pengurus, anggota Bhayangkari, keluarga, dan masyarakat untuk bersama-sama membangun kebiasaan memilah sampah dari rumah. Semakin banyak sampah yang terkumpul dan terkelola, semakin besar pula manfaat yang dapat diberikan, baik untuk lingkungan maupun untuk keberlangsungan bank sampah,” ujarnya.
Menurut Ny. Dinda, keberhasilan bank sampah tidak semata-mata diukur dari banyaknya sampah yang berhasil dikumpulkan dan dijual. Hal yang lebih penting adalah perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat dalam memperlakukan sampah.
“Keberhasilan bank sampah pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa banyak sampah yang berhasil dijual, tetapi tentang perubahan cara pandang masyarakat terhadap sampah. Yang ingin kita bangun bukan hanya kegiatan menjual sampah, tetapi perubahan perilaku,” ungkapnya.
Ia menilai kebiasaan memilah sampah harus mulai dibangun dari lingkungan rumah tangga. Langkah sederhana tersebut dinilai dapat menjadi fondasi bagi terbentuknya gerakan pengelolaan lingkungan yang lebih luas dan berkelanjutan.
“Masyarakat perlu mulai melihat bahwa memilah sampah adalah kebiasaan baik yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan juga memiliki nilai ekonomi. Dari kebiasaan kecil di rumah, kita bisa membangun gerakan yang lebih besar untuk lingkungan,” tambahnya.
Pengurus BSU Bhakti Satria Bhayangkari Cabang Luwu Timur berharap kegiatan penjualan sampah anorganik dapat berlangsung secara rutin dan berkelanjutan. Dengan semakin banyak masyarakat yang memilah sampah sejak dari sumbernya, volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir diharapkan dapat ditekan.
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun budaya 3R (Reduce, Reuse, Recycle) sekaligus memperkuat kolaborasi antara masyarakat, organisasi Bhayangkari, dan para pemangku kepentingan dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab.
Melalui aktivasi penjualan ini, BSU Bhakti Satria Bhayangkari Cabang Luwu Timur menegaskan komitmennya untuk terus bergerak melalui langkah konkret: memilah sampah, mengubahnya menjadi nilai ekonomi, sekaligus menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan secara bersama-sama, pungkasnya.
Pewarta: Risthen
Integritas-news.my.id



