SURABAYA | Integritas-news.my.id — Pengamat sekaligus lawyer Saiful Huda Ems (SHE) melontarkan kritik tajam terhadap Presiden ke-7 RI Joko Widodo, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, serta Presiden RI Prabowo Subianto. Kritik tersebut dituangkan SHE dalam tulisan berjudul “Pura-Pura Islam Ala Jokowi, Gibran dan Prabowo”, tertanggal 14 September 2026.
Dalam tulisannya, SHE menyoroti hubungan antara simbol keagamaan, keteladanan seorang pemimpin, serta kemampuan mengelola pemerintahan. Menurutnya, seorang pemimpin yang tampil membawa simbol agama semestinya mampu menunjukkan keteladanan dan sikap yang mencerminkan nilai-nilai yang dianutnya.
SHE kemudian menyoroti sosok Joko Widodo. Ia mempertanyakan kapasitas keagamaan Jokowi dan menyinggung sejumlah penampilan Jokowi dalam kegiatan keagamaan, termasuk ketika menjalankan ibadah haji pada 2014.
SHE juga mengungkapkan bahwa keberangkatan Jokowi bersama keluarga ke Tanah Suci saat itu menurut pengetahuannya memiliki latar belakang tertentu. Ia menyebut keberangkatan tersebut berkaitan dengan upaya menjawab tuduhan mengenai isu keturunan PKI yang muncul menjelang Pilpres 2014.
“Di Tanah Suci Jokowi sama sekali tidak mengerti dan hafal doa-doa, ia bisanya hanya cengar-cengir dan pura-pura berdoa di depan kamera saja,” tulis SHE dalam artikelnya.
Namun, sejumlah tudingan pribadi yang disampaikan SHE tersebut merupakan pernyataan dan penilaian penulis yang membutuhkan pembuktian independen apabila hendak diposisikan sebagai fakta.
Kritik serupa juga diarahkan SHE kepada Gibran Rakabuming Raka. Ia mempertanyakan kapasitas keislaman Gibran sekaligus penggunaan simbol dan sebutan keagamaan dalam ruang publik.
SHE bahkan mempertanyakan munculnya panggilan “Gus Gibran”, dengan alasan bahwa menurut pandangannya Gibran tidak memiliki latar belakang sebagai pengajar ngaji, pengasuh pondok pesantren maupun keturunan ulama.
“Ini maunya apa?!” tegas SHE dalam tulisannya.
Selanjutnya, SHE menyoroti Prabowo Subianto. Ia mengangkat momen kampanye Pilpres 2024 di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta yang menurut pengamatannya memperlihatkan Prabowo sempat keliru mengikuti gerakan ketika doa hendak dimulai.
SHE juga mengkritisi pernyataan Prabowo yang pernah menyebut telah mengucapkan Dua Kalimat Syahadat tiga atau empat kali sepanjang hidupnya. Menurut SHE, pernyataan tersebut menjadi sesuatu yang ironis jika dikaitkan dengan pelaksanaan ibadah seorang muslim.
Meski mengkritik aspek keagamaan ketiga tokoh tersebut, SHE menegaskan bahwa persoalan utama yang menurutnya jauh lebih penting adalah kemampuan seorang pemimpin dalam mengelola negara.
“Saya sebenarnya tidak ingin membahas hal-hal seperti demikian yang tidak ada relevansinya dengan kepemimpinan nasional, sebab tanpa bisa ngaji Al Quran maupun tanpa sholat, seorang pemimpin nasional bisa saja dapat memimpin negara dengan baik,” tulisnya.
Menurut SHE, seorang pemimpin negara pada dasarnya harus memiliki kemampuan tata kelola pemerintahan, termasuk kemampuan mengelola konflik serta mengambil kebijakan yang berpihak kepada kepentingan masyarakat.
Namun, ia menilai persoalan tersebut justru menjadi bagian dari kritiknya terhadap pemerintahan yang dipimpin oleh para tokoh tersebut.
SHE menyoroti berbagai persoalan yang menurutnya masih membebani masyarakat, mulai dari konflik sosial, kondisi ekonomi, penegakan hukum, besarnya kabinet pemerintahan, persoalan korupsi, pengelolaan hutan dan tanah rakyat, hingga polemik program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ia juga menyinggung kasus anak sekolah yang mengalami keracunan dalam pelaksanaan program MBG serta munculnya aksi pembakaran Dapur SPPG yang menurutnya merupakan bentuk akumulasi kekecewaan masyarakat.
Selain itu, SHE mengkritisi kebijakan anggaran pemerintah pusat terhadap daerah. Menurutnya, pemangkasan bantuan pusat berdampak terhadap kemampuan pemerintah daerah dalam memenuhi kebutuhan pembangunan masyarakat.
Persoalan pendidikan juga menjadi sorotan. SHE menilai mahalnya biaya pendidikan berpotensi memperbesar persoalan sosial, seperti anak putus sekolah, pernikahan dini, pengangguran, pinjaman online hingga judi online.
Dalam kritiknya, SHE juga menyebut fenomena sejumlah pihak yang menurutnya justru menikmati suasana kekuasaan ketika persoalan rakyat belum terselesaikan.
Pada bagian akhir tulisannya, SHE menegaskan bahwa kritik yang ia sampaikan bukan semata-mata mengenai apakah seorang pemimpin mampu membaca Al-Qur’an atau menjalankan ibadah, melainkan mengenai keteladanan, integritas dan kemampuan menjalankan pemerintahan secara benar.
Ia menilai persoalan bangsa tidak akan selesai hanya dengan menampilkan simbol-simbol keagamaan apabila tidak diikuti kemampuan mengelola negara dan keberanian menerima kritik dari masyarakat.
SHE juga menuding adanya upaya menghadapi suara kritis masyarakat dengan mengerahkan pendukung kekuasaan. Ia mempertanyakan sikap tersebut apabila memang seorang pemimpin mengaku membawa nilai-nilai Islam dalam kepemimpinannya.
“Ini pemimpin Islam cap apa?!” tegas SHE dalam penutup kritiknya.
Tulisan tersebut ditandatangani Saiful Huda Ems (SHE) pada 14 September 2026. Ia memperkenalkan dirinya sebagai lawyer yang siap bertarung politik secara total melawan Jokowi, Gibran maupun Prabowo.
Kritik SHE tersebut menjadi bagian dari dinamika perdebatan publik mengenai kepemimpinan nasional, penggunaan simbol keagamaan dalam politik, serta tuntutan masyarakat terhadap pemerintahan yang transparan, efektif, bertanggung jawab dan terbuka terhadap kritik.
Pewarta Ifa | Integritas-news.my.id

